Minggu, 04 Agustus 2013

SEJARAH DESA ANGANTAKA

Sekilas sejarah Desa Angantaka ~ Tersebutlah pada zaman dahulu kala berkisar pada abad ke 18 lebih kurang tahun caka 1750, bertahtalah di Puri Blahbatuh, Ida I Gusti Ngurah Kedep alias I Gusti Ngurah Jelantik XV, beliau mempunyai saudara 1) I Gusti Ngurah Gede Abyan beribu dari Puri Bon Biu, 2) I Gusti Ngurah Gede Meranggi, 3) I Gusti Made Meranggi, 4) I Gusti Nyoman Meranggi beliau bertiga beribu dari Tember/Penawing, 5) I Gusti Gede Tamsi Beribu dari Jro Kulit Belege dan beliau dimohon sebagai pengerajeg dii Blege atas permintaan Jro Gede Kulit. Diceritakan Ida I Gusti Ngurah Jelantik XV telah beristri dari Tegallinggah dan berputra sebanyak 5 orang, yang tertua Ni Gusti Ayu Dalem, Ki Gusti Ngurah Gede, Ki Gusti Ngurah Jelantik, Ni Gusti Ayu Kompiang, dan Ni Gusti Ayu Ketut Agung. 

Setelah Ki Gusti Ngurah Jelantik XV gugur dalam peperangan di desa Wanayu, sanak saudara beliau yang ada yang masih di Puri Blahbatuh adalah I Gusti Ngurah Gede Abyan. Sedangankan putra beliau Ida I Gusti Ngurah Gede disebutkan Tan Wawe Rengen Ri Pariksa Ning Wadwa Matangyan Ida I Gusti Ngurah Gede Abyan anitah wadwane ring Blahbatuh. Adapun Ida I Gusti Ngurah Gede Abyan telah beristri putri dari I Gusti Ngurah Bun, yang bernama I Gusti Ayu Penatih dari Desa Bun. 

Suatu ketika terjadi kemelut di Puri Blahbatuh, beberapa kelompok manca-manca Puri menginginkan supaya Ida Gusti Ngurah Gede yang memegang kerajaan dan ada pula yang menginginkan supaya tetap diperintah oleh Ida I Gusti Ngurah Gede Abyan. Untuk menghindari suatu pertumpahan yang akan terjadi di Puri Blahbatuh, maka Ida I Gusti Ngurah Gede Abyan mengutus para wada supaya menghadap beliau. Beliau menyatakan akan pergi dari Puri Blahbatuh. 

Diceritakan Ida I Gusti Ngurah Gede Abyan pergi dari Puri Blahbatuh diiringi wadwa sebanyak lima puluh orang, yang terdiri dari banyak, Treh seperti Kubayan, Pande, Tangkas, TegehKuri, Gelgel, Bendesa, Wayabya Pinatih, dan lain-lain. 

Setelah sekian lama perjalanan beliau disebuah Desa alas terik yang beliau beri nama Karang Dalem, yang berarti lembah atau pangkung. Kalau dibandingkan dengan kenyataan yang ada, puri yang beliau buat adalah di tempat yang ada jurangnya, dari letak Puri tersebut dipandang kearah ersania / timur laut tepat kelihatan letak dari Gunung Agung, karena leluhur beliaulah yang mendapatkan anugrah dari Ida Betara Toh Langkir, berupa pusaka yang dipakai sebagai peperangan melawan Ida Dalem Bungkut Raja Nusa Penida. Sampai sekarang ada peninggalan Pura yang dikenal dengan nama Pura Penataran Agung di Karang Dalem II Desa Bongkasa Pertiwi yang disungsung oleh sebagian masyarakat adat Karang Dalem II Bongkasa Pertiwi. 

Setelah sekian lama didengarlah keberadaan beliau Ida I Gusti Ngurah Gede Abyan oleh Raja Mengwi pada saat itu. Karena beliau Raja Mengwi merasa satu treh / keturunan sama – sama keturunan Sri Nararia Kresna Kepakisan / Arya Kepakisan supaya beliau berkenan menempati pengunjung wilayah kerajaan Mengwi sebagai daerah-daerah perbatasan dengan wilayah kerajaan Badung. 

Pada suatu hari berangkatlah Ida I Gusti Ngurah Gede Abyan diiringi para wadwi menuju tempat yang masih merupkan alas atau hutan dari Desa Bun, di Desa Bun beliau Ida I Gusti Ngurah Abyan diterima oleh mertua beliau, dan oleh mertua beliau disarankan supaya merabas huta desa Bun sebagai tempat tinggal. Beliau tidak diperkenankan tinggal di Puri Bun / menempati Puri Bun disanalah beliau bersama pengiringnya merabas hutan dijadikan desa yang diberi nama Desa Angantaka, yang nama dapat diartikan ; Ngentaka berasal dari kata ngetak yang berarti panas, karena sesungguhnya kepergian beliau Ida I Gusti Ngurah Abyan dari Puri Blahbatuh karena adanya situasi dan kondisi yang mengarah pada perpecahan, disatu pihak ada yang mendukung beliau, dilain puhak ada yang mendukung keponakan beliau. Itulah sumber poenyebab pikiran beliau menjadi murka, kalut, jengah yang menimbulkan semangat yang berapi-api, tetapi mengalah demi menghindari suatu perpecahan di Puri Blahbatuh. Lama kelamaan sebutan ngentak tersebut menjadi Angantaka. Karena kedatangan beliau bersama pengiring dari Karang Dalem Bongkasa, maka banjar yang pertama di Desa Angantaka adalah Banjar Karang Dalem yang lama kelamaan menjadi banjar dalem dan berkembang dengan banjar puseh dan banjar desa, setelah desa mempunyai kahyangan tiga. Disamping itu Raja Mengwi juga memberikan rakyat yang berasal dari kekeran Mengwi,menjadilah kemudian banjar Kekeran Angantaka. Begitu pul pada saat perang Badung dengan Mengwi dimana Puri Sading dititipkan oleh Raja Mengwi di Angantaka dengan diiringi rakyat yang berasal dari Tegal Darmasaba menjadi Banjar Tegal. Lama kelamaan banjar Tegal digabungkan dengan banjar Desa yang ada di desa Angantaka. 

Demikianlah sekilas sejarah berdirinya desa Angantaka, dan terbukti sampai sekarang dari segi kekerabatan masyarakat kami, keluarga besarnya adalah banyaknya dari Gianyar Blahbatuh, Kemenuh Bon Biu, Tojan, Keramas dan dari Kekeran Mengwi, Tegal Darmasaba dan sebagainya. The End

LETAK STRATEGIS DESA ANGANTAKA

LETAK STRATEGIS DESA ANGANTAKA ||



Desa Adat Angantaka merupakan desa/kelurahan yang terdapat di wilayah Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Desa Angantaka dibagi menjadi 4 banjar yaitu : Banjar Kekeran, Banjar Desa, Banjar Puseh dan paling selatan Banjar Dalem Serta desa ini dibagi menjadi 2 desa adat yaitu Desa Adat Kekeran Dan Desa Adat Angantaka. Batas wilayah Desa Adat Angantaka yaitu sebelah utara berbatasan dengan Desa Adat Sedang, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Adat Jagapati, sebelah barat berbatasan dengan Desa Adat Jagapati, dan sebelah timur berbatasan dengan Desa Adat Singapadu Kabupaten Gianyar.


PETA DESA ANGANTAKA 






Kamis, 25 Juli 2013

KESENIAN ANAK - ANAK DESA ANGANTAKA

KESENIAN ANAK - ANAK DESA ANGANTAKA ~


Tari Puspanjali :